Setiap manusia tidak luput dari suatu kesalahan dan itu adalah aibnya. Dan banyak orang yang sengaja maupun tidak sengaja membuka aibnya sendiri. Padahal Allah telah menutup aibnya. Tidak hanya aib sendiri yang dibuka melainkan salah satu kebiasaan manusia suka membuka aib orang.
Ada suatu kisah dari sahabat Rasulullah Saw yang bernama Umar ibn al-Khathab. Seperti biasa, bila malam tiba Umar selalu berkeliling untuk memeriksa rakyatnya. Pada saat itu, ia ditemani oleh Abdullah ibn Mas’ud ke tempat yang terpencil. Kemudian mereka melihat kerlip dan sayup-sayup terdengar suara nyanyian. Keduanya lalu berjalan menuju arah kerlip itu ternyata berasal dari sebuah rumah. Umar pun mengetuk pintu rumah tersebut. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang menjawab ketukan pintunya.
Umar pun memanjat ke atap rumah. Dan ia pun melihat seorang tua sedang duduk santai, sedang di hadapannya ada cawan minuman dan ada seorang wanita sedang bernyanyi. Sang Khalifah menampakkan diri dan menghardik, “Belum pernah aku melihat pemandangan seburuk yang aku lihat malam ini! Seorang tua yang menunggu ajalnya! Hai musuh Allah, apakah engkau mengira Allah akan menutup aibmu, padahal engkau berbuat maksiat?”
Lalu Orang tua itu membela diri, “Tidak ada seorang muslim pun yang berhak berbicara dengan sesamanya melalui cara demikian. Meskipun aku telah berbuat salah, tetapi pikirkanlah berapa kesalahan yang telah engkau perbuat. Pertama, engkau telah mengintip, walau Allah telah memerintahkan, “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” ( QS. Al-Hujurat (49) : 12). Kedua, engkau masuk melalui atap, walaupun Allah telah memerintahkan, “Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur (24) : 27).
Mendengar jawaban tersebut, Umar merasa sangat malu dan segera mengundurkan diri seraya berkata, “Baiklah, aku memaafkan kesalahanmu.” Tapi, si pemilik rumah berujar, “Ini merupakan pelanggaranmu yang keempat karena jika engkau menyatakan diri sebagai pelaksana hokum Islam, bagaimana mungkin berkata bahwa engkau memaafkan yang salah dalam pandangan Allah?”
Umar hanya menjawab, “Engkau benar!” Ia pun segera keluar menggigit pakaiannya sembari menangis, “Celakalah engkau, Umar, bila Allah tidak mengampunimu. Ada orang yang bersembunyi dari keluarganya. Sekarang dia berkata, “Umar mengetahuiku. Kemudian, keluarganya menguntitnya.”
Sejak saat itu, orang tua tersebut tidak pernah menghadiri majelis Umar. Hingga suatu hari, orang tua itu datang dan duduk di barisan paling belakang, seakan-akan ia bersembunyi dan tidak ingin terlihat dari pandangan Umar. Namun, malangnya Umar telah melihatnya. Kemudian Umar memanggilnya. Tentu saja, orang tua itu berdiri dan berpikir bahwa Khalifah akan mempermalukannya. Di luar dugaan, Umar berkata padanya, “Dekatkan telingamu padaku!” lalu, ia berbisik padanya, “Demi yang telah mengutus Muhammad dengan hak sebagai Rasul, tidak seorang pun akan kuberi tahu apa yang telah kusaksikan pada dirimu. Begitu pula Ibnu Mas’ud yang bersamaku pada malam itu.”
“Ya Amirul Mukminin, dekatkan juga telingamu,” ujar orang tua itu, lalu giliran dia berbisik, “begitu juga dengan saya. Demi yang mengutus Muhammad dengan hak sebagai Rasul, aku tidak pernah kembali pada perbuatan itu sampai aku datang ke majelis ini.”
Mendengar itu, Umar segera bertakbir dengan suara yang keras, “Allahu Akbar!” Melihat hal itu, tentu saja orang-orang yang hadir heran dan tidak mengetahui alasan Umar bertakbir. Dan kedua sahabat itu bersyukur karena telah berhasil menyembunyikan aib sesama muslim.
Lain lagi dengan kisah yang dialami oleh seorang laki-laki yang tergesa-gesa mendatangi Umar. Umar mengira ia akan membawa berita baik, kenyataannya kebalikannya. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku melihat si Fulan dan Fulanah saling berpelukan di belakang pohon kurma.”
Mendengar berita tersebut, Umar segera mencengkeram kerah bajunya dan mengangkat tongkatnya lalu ia berkata kepada laki-laki tersebut setelah memukulnya satu kali, “Mengapa engkau tidak menutupinya dan engkau berharap dia akan bertobat? Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa yang menutupi aib seseorang di dunia, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”
Kisah tersebut merupakan sebuah kisah yang memberikan suatu pelajaran agar kita sebagai umat muslim untuk menutupi aib orang lain, karena kita sendiri pun juga memiliki suatu aib. Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Semua umatku akan diampuni, kecuali orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan maksiat, seseorang melakukan maksiat di malam hari, Allah tutupi sehingga tidak ada yang tahu, namun di pagi hari dia bercerita, “Hai Fulan, tadi malam saya melakukan perbuatan maksiat seperti ini.” Malam hari Allah tutupi kemaksiatannya, pagi harinya dia singkap tabir Allah yang menutupi maksiatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rujukan :
The Great of Two Umar Kisah Hidup Dua Khalifah Paling Legendaris: Umar ibn al-Khathab dan Umar ibn Abdul Aziz
Rujukan :
The Great of Two Umar Kisah Hidup Dua Khalifah Paling Legendaris: Umar ibn al-Khathab dan Umar ibn Abdul Aziz
